Adhyra Ramadiani
1996, February
xoxo

1/17/14

Foto Album

Foto album merealisasikan seluruh perjalanan cinta dalam hidupku...

~*~



Ketika Nada membuka pintu kelas dia kaget karena ada sesosok senior tinggi yang sedang berdiri di depannya. “Ah bete!” dengan kasar Nada menutup pintu dan berjalan duduk ke bangkunya.

Teman disebelahnya, Audi menggeleng-gelengkan kepala. “Na, udah bagus dia kejar-kejar lo. Kasian tuh disia-siain, ganteng itu...” kata Audi.

“Apaan lah tau.” Dengan cuek tanpa menyadari bahwa Vero sedang berjalan ke arah nya. “Kok di tutup sih? Dibanting lagi. Gak sopan loh gua kakak kelas.” Kata Vero sambil menarik kursi untuk duduk di sebelah Nada.

“So? Kan lo udah kelas 10, ngapain coba di SMP? Mau balik lagi?” jawab Nada ketus. “Ngapain yaaaa....ketemu lo lah.” Kata Vero enteng. “What ever.” Kata Nada berbisik. “Ohhh lo belom tau gue nih.”

Sesaat Nada kaget karena Vero merangkulnya dan berteriak-teriak. “Eh sekarang tanggal berapa, Ja? Catet-catet.” Raja langsung mengeluarkan BlackBerry nya dan seperti mengetik sesuatu. “17 Maret 2011, Bos!” kata Raja.

“Oke perhatian woy semua!” Vero berdiri dan langsung berjalan ke depan kelas. “Catet di kalender lo masing-masing, hari ini tanggal 17 Maret 2011 adalah hari dimana Vero Raditiya menjadi pacar Ariyana Nada Putri. Sekian.” Kata Vero sambil melambaikan tangan ke arah Nada dan berjalan keluar.

“What?????????? Gak sudi. Najis, gak mau gua!” Nada marah-marah tapi wajahnya memerah. Saking kesalnya ia pun berjalan keluar kelas, tetapi saat sampai di depan pintu Nada menabrak seseorang. “Sorry sorry.” Saat tersadar bahwa yang ditabraknya adalah Radian.

“Gpp. Bytheway, lo jadian sama Vero? Congrats ya. Hati-hati cacat itu anak.” Kata Radian tersenyum kearah Nada dan Nada balas tersenyum. Seakan Nada melupakan semua rasa benci nya kepada Vero saat melihat senyum Radian.

Terbangun dengan mimpi sesaatnya Nada langsung angkat bicara, “Ish...gue gak jadian sama makhluk sinting kayak gitu!” balas Nada dan berjalan ke arah toilet. “Nada, Congrats ya!” “Longlast Nad!” “Selamat ya Nadaaa!” sepanjang koridor sekolah mengatakan itu kepada Nada. Dan Nada tetap berjalan cuek melewati mereka.

Tiba-tiba sesampai nya di kamar mandi dia langsung mengecek BlackBerry nya yang bergetar. BBM dari Vero.

Maaf ya aku ngelakuin itu. Aku sayang kamu. Aku mau kamu jadi milik aku.

Nada langsung mengernyit dan membalasnya,

Tapi gue gak mau.

Dan segera mematikan handphone nya. Lalu menaruhnya kembali ke dalam kantung bajunya dan mencuci muka nya. Saat Nada mendongak dia menemukan 5 orang sahabatnya yang masuk ke dalam toilet. “Na, sabar yaaa. Tadi gue sama Sila udah coba ngehadang dia tapi gak bisa.” Kata Farah. Aku hanya diam. Farah melanjutkan omongannya, “Tapi kenapa lo nolak sih, Na? Baik? Iya. Pinter? Iya. Ganteng? Banget.”.
Nada menampakan wajah suramnya, “Gue suka? Engga!”.

“Tapi gak mungkin lo gak ada feel kan. Setahun dikejar-kejar kayak gitu pasti ada lah.” Asha angkat bicara.

“Taulah” kata Nada sambil memegangi kepalanya yang tiba-tiba sakit.

“Kenapa lo, Nad?” tanya Sila dan Risa panik. “Gak apa-apa kok.” Jawab Nada berbohong dengan lagak kembali seperti biasa.

~*~

Nada jalan ke dalam rumah sambil tetap memegangi kepala. Sampai di kamar nya dia langsung menelfon ayahnya,

“Yah, sakit lagi.”

“Ayah panggilkan dokter Samsu ya Nak. Kamu jangan banyak beraktifitas. Kamu tau kan kondisimu semakin parah akhir-akhir ini, karna sibuk sekolah akhir tahun.” Kata Ayah dari seberang sana.

“Gak usah panggil dokter lah, Yah. Gak parah kok, cuma pusing biasa. Bentar lagi juga redaan. Yaudah Assalamualaikum, Yah.”

“Kamu baik-baik aja ya disana. Ayah dan Bunda doain kamu dari sini. 3 hari lagi Ayah pulang kok. Walaikumsalam.”

Akhirnya percakapan itu selesai. Nada telah mengidap penyakit Kanker Otak dari dia kelas 3 SD. Suatu ke ajaiban dia masih bisa bertahan sampai sekarang. Waktu ayah dan bunda nya berbicara dengan dokter saat dia kelas 7 kemarin dia mendengar samar-samar bahwa umurnya sudah tidak panjang lagi. Sebab dari itu dia tidak mau memberi harapan kepada semua teman laki-laki yang mendekatinya. Termasuk Vero.

Saat sakit di kepalanya sudah mereda dia langsung beranjak dari tempat tidur dan menyalakan PC di kamarnya untuk mengerjakan tugas Geografi yang tidak selesai-selesai. Nada salah satu anak terpintar di sekolahnya. Dia selalu meraih ranking 1 di kelas dengan rata-rata 9 ke atas. Tapi dia selalu merasa hidup tidak adil karena penyakitnya. Teman-temannya pun tidak tau. Cuma beberapa guru di sekolah yang tau. Nada takut semuanya akan kasihan terhadap dirinya.

Tiba-tiba dia terpikir akan Radian. Cowok yang dia taksir dari dia kelas 6 SD. Bukan cowok idaman semua cewek sekolahnya. Namun menurut Nada, Radian baik. Dan dia selalu mendengar Radian menjadi 5 besar di sekolahnya. Ditambah lagi dia jago bermain alat musik. Tapi Nada hanya bisa melihatnya dari jauh dan tidak bisa mendekatinya.

Lamunannya buyar ketika seseorang mengetuk pintunya. “Yaaa, masuk aja gak dikunci.” Seru Nada.

“Non, makan dulu yuk. Bibi udah bikinin Sup Kacang kesukaan Non.” Kata bibi.

Nada menjawab, “Iya bi, bentar ya bentar lagi aku turun. Oke?”.

“Bener ya Non.”

Ketika Bi Yayan keluar. Hp nya bergetar. Telfon dari Vero masuk. “Kayaknya gua harus ganti nomer nih.” Langsung dimatikannya hp dan berjalan keluar.

~*~
4 bulan kemudian.

Hari itu telah berlalu. Nada telah naik ke kelas 9 dan Vero menjadi kelas 11. Semua orang tetap menganggap Nada jadian dengan Vero. Dan Vero pun tetap rajin ke SMP setiap istirahat dan pulang sekolah. Hari ini tepat 4 bulan mereka jadian. Nada mulai membuka diri terhadap Vero.

Pulang sekolah Vero mengantar Nada pulang. Sudah setengah jalan mereka tetap diam selama perjalanan. Nada tersadar dia bukan berada di jalur pulangnya. “Ro, kita mau kemana? Pulang kan?” namun sayangnya Vero sudah membelokan mobilnya ke arah jalur tol. “RO!” bentak ku sekali lagi.

“Udah ikutin gua aja napa sih.” Kata Vero santai. Nada memegang kepalanya berkali-kali. Kepalanya seperti di bom. “Kita cuma mau ke Jakarta kok. Gak jauh-jauh.” Vero tetap konsentrasi terhadap jalanan di depan.

“Pulang plis banget, Ro.” Kata Nada lagi. “Gak mau lo aja gak inget hari ini ada apaan!” Vero sama sekali tidak menengok ke arah Nada malah dia menancap gas semakin kencang. Nada benar-benar tambah pusing dengan Vero seperti ini.

“Ro, plis...” kali ini Nada memegang lengan Vero karena sudah tidak kuat lagi. Baru kali ini Vero menengok ke arah Nada dan menemukan wajah pacar nya yang sudah pucat pasi. “Na, lo kenapa?? Iya iya sekarang kita pulang ya.” Aksen panik yang sangat terdengar dari suara Vero keluar. Vero segera keluar dari pintu tol dan masuk kembali ke pintu tol ke arah pulang dengan kecepatan yang lebih tinggi.

Saat sampai dirumah Vero langsung menggendong Nada masuk ke dalam kamarnya di ikuti Bik Yayan. “Kenapa dia, Bik?” tanya Vero panik. Bibik yang sibuk mencari obat Nada dan sama sekali tidak memedulikan pertanyaan Vero.

“Bik, ce-pet. Sakit bik.” Nada meminta dengan suara merintih. Bik Yayan langsung memberikan obat serta minum nya untuk Nada. Perlu beberapa waktu untuk meredakan rasa sakit itu. Vero tetap memegang tangan Nada erat. Sampai akhirnya Nada merasa baikkan.

“Na, kamu gak apa-apa kan? Aku khawatir.” Mimik wajah Vero yang masih penuh kekhawatiran menatap wajah Nada. Nada tetap diam tanpa berbicara sepatah katapun. “Maafin aku ya, aku gak maksud aku cuma mau ngajak kamu jalan buat ha...” kata-kata Vero terpotong oleh Nada.

“Kamu gak seharusnya sama aku. Kamu gak seharusnya jadi pacar aku. Aku sakit, Ro. Gak lama lagi. Kamu harus ngerti. Aku gak mau kamu sedih karna aku. Kanker otak ku makin parah bener-bener gak lama lagi, Ro.” kata Nada yang suaranya terputus-putus. Wajah kaget dari Vero terpancar.

“Gimana bisa? Kamu masih muda, Na!” Vero terdiam sebentar. Tampaknya Nada sama sekali tidak berbohong. “Tapi aku gak peduli! Aku gak peduli kamu sakit. Aku sayang kamu. Aku tetep mau sama kamu.” Kata Vero sungguh-sungguh, dia melihat Nada mulai berkaca-kaca, Vero tidak kuat melihat Nada terlihat rapuh seperti ini. Rasanya Vero ingin memeluk Nada sekarang juga. Namun niatnya batal karna Ayah dan Bunda Nada masuk.

“Kamu tidak apa-apa, Nak? Ayah dan Bunda sangat khawatir. Ayah bilang jangan terlalu capek!” kata Ayah yang terlalu kaget karna di telpon oleh Bik Yayan tiba-tiba saat meeting. “Gak usah khawatir segitunya yah sama Nada. Aku gak apa-apa, cuma kecapekan tadi ada jadwal tambahan buat UN.” Jawab Nada terpaksa berbohong karena takut Vero kena omelan Ayahnya.

Ayah Nada hanya mengelus kepala anaknya yang terbaring. Ia melihat ke arah Vero dan membuat dirinya terbatuk disengaja. “Ini siapa ya?” tanya Ayah Nada. Vero yang tadi ngelamun karena dicuekin akhirnya tersadar karena Ayah Nada.

“Vero om. Temen Nada.” Kata Vero sambil menjabat tangan laki-laki tua didepannya.

“Ohh ini toh, Nak.” Akhirnya Bunda bersuara.

“Apasih Bun.” Nada menjawab dengan muka yang sudah merah. Bunda tetap melirik ke arah Nada dan senyum-senyum.

“Ya sudah ya nak. Ayah Bunda gak bisa lama-lama juga.” Kata Ayah lalu melirik ke arah Vero. “Nak Vero bisa jaga Nada kan? Tapi jangan sampai malam loh ya.” Kata Ayah dengan lirikan sama seperti Bunda.

“Siap Om!” jawab Vero bersemangat. “Makasih ya, Nak.” Kata Bunda. Lalu ke dua orang tua Nada mengecup kening Nada hangat dan berlalu keluar kamar.

Sudah 2 jam Nada terjebak di dalam bersama Vero. “Nada?” Vero memecahkan suasana yang daritadi hening tak ada yang membuka pembicaraan. Nada menatap wajah Vero dan Vero membalasnya dengan tatapan matanya. “Happy Anniversary ya.” Kata Vero sambil mengambil sesuatu dari tas nya. Bunga mawar putih yang sangat cantik.

Nada terdiam dan tak mampu mengatakan apa-apa lagi. Ia hanya tersenyum dan bangkit memeluk Vero. Vero kaget dengan perlakuan Nada, “Aku bakal tetep sayang kamu kok sampe kapanpun.”. Vero membalas pelukan Nada.

Mungkin sekarang, Yan. Gue gak bisa sama bayang-bayang lo terus.

~*~

Nada semakin dekat dengan Vero. Mereka seperti pasangan yang tidak dapat dipisahkan. Namun suatu hari Nada cuek terhadap Vero dan tidak mau berbicara kepadanya. Kemarin Nada mendengar bahwa Sila telah jadian dengan Radian. Nada masih tidak percaya sahabatnya bisa melakukan hal itu terhadapnya. Walaupun Nada tahu bahwa dia sudah bersama Vero. Perasaan tidak menentu itu tiba-tiba datang kepadanya.

Saat pulang sekolah Nada jalan terlalu cepat di depan Vero. Nada menghampiri tukang ojek di depan sekolahnya. Akhirnya Vero menangkap tangan Nada. “Na! Kamu kenapa sih? Aku salah apa?” desak Vero. Namun Nada malah melepasnya dan naik ke atas motor tukang ojek itu. “Jalan bang.”

“Kenapa sih?” gerutu Vero.

“Udah Ver biarin aja dia lagi galau kali. Kemaren kan Sila sama Radian jadian.” Kata teman Nada dari belakang, Audi.

“Apa hubungannya??” jawab Vero heran.

Kali ini Asha yang berbicara, “Okay, lo harus tau ini juga. Cepet atau lambat lo bakal tau. Nada nyimpen perasaan ke Radian udah bertahun-tahun. Hem, jangan judge Nada ya! Bukan dia yang salah kalau dia masih mikirin Radian.”.

“Hm, makasih ye buat informasinya.” Vero berjalan ke arah mobilnya.

Na, kalau masih sayang aku nanti ke taman deket rumah kamu jam 7. Aku tunggu.

~*~

Nada kaget mendapatkan BBM dari Vero seperti itu. Nada tidak menjawabnya. Dia habis menangis, Nada masih shock dengan kejadian kemarin itu.

Jam di dinding sudah menunjukkan pukul 7 tepat. Karena takut Vero benar-benar menunggu dia. Akhirnya dia bersiap-siap dan langsung berjalan ke arah taman dekat rumahnya.

Sesampainya di taman dia melihat dari jauh siluet seseorang memegang gitar sedang duduk di bangku taman. Nada berjalan ke arah Vero. “Aku kira gak bakal dateng.” Kata Vero sambil senyum-senyum. Nada langsung menempatkan dirinya disebelah Vero.

Vero memakai celana jeans dan t-shirt polos berwarna biru serta leather jacket. Terlihat sangat sempurna dengan rambutnya yang acak-acakan itu. Begitu juga dengan Nada menurut Vero, Nada memakai legging hitam dengan kaus sepaha yang jatuh pas ditubuhnya, rambutnya yang panjang terurai begitu saja.

Vero mulai memainkan gitarnya. Nada langsung mengenali lagu itu. Nada hanya terdiam dan menatap Vero lekat-lekat. Saat masih intro Vero berbisik, “Buat kamu.”

...
How precious you are in my life
And you know that it’s true
To be with you is all that i need
Cause with you, my life seems brighter 
...
I Will Fly – Ten2Five

Vero memetik senar gitar itu dengan sempurna sambil menyanyikannya. Nada memandangi sosok yang ada disebelahnya itu. Betapa bodohnya Nada harus mendengarkan lagu itu lagi dan mengingatkannya pada seseorang. Radian.

Air mata jatuh di dasar pipinya. Vero yang melihat Nada seperti ini langsung berhenti bernyanyi. “Ro? Kok berhenti?” kata Nada berusaha menyembunyikan air matanya. “Lagi dong! Suara kamu bagus tau gak? Mau denger lagi, Ro!” bujuk Nada sambil menarik-narik lengan baju Vero.

“Kita pulang aja? Kamu kayaknya kecapekan. Aku takut kamu kenapa-kenapa.” Kata Vero datar memandang ke arah Nada. “Ya?” kata Vero sekali lagi.

“Gak, aku gak mau pulang. Aku mau disini.” Ucap Nada yakin. Ke duanya terdiam begitu lama. Pikiran Nada menerawang kemana-mana. “Ro? Boleh sandaran dibahu kamu?” tanya Nada. Vero yang hanya diam mempersilahkan Nada untuk bersandar di bahunya. Vero menaruh tangan kanannya diatas kepala Nada dan mengusapnya. “Anytime.” Bisik Vero.

Setelah diam yang lama akhirnya Nada berbicara. “Ro,” Vero menengok ke arah Nada. “Aku suka banget liat ke langit. Mau itu malam atau pagi aku tetep suka.” Vero tidak menjawab apapun. “Luas, Ro. Kayak bebas. Bisa terbang kemana-mana kalau bisa. Jadi kan tuh gak usah mikirin yang namanya sakit. Aku bisa lepasin semuanya.” Nada tetap tersenyum ketika mengatakan itu.

Vero langsung mengerti apa maksud dari kata yang barusan Nada ucapkan . “Aku gak suka kamu kesana.” Kata Vero singkat. Nada langsung menjauh dari Vero dan memandangnya tak suka. Raut muka Nada menyimpan tanda tanya atas perkataan Vero tadi. “Kamu gak boleh jauh dari aku!” kata Vero seraya mencubit hidung kecil Nada.

“Yeeee. Apaan....” ucapan Nada terhenti ketika Vero mengecup pipinya dengan lembut. Suasana menjadi hening seketika. Vero menarik Nada kedalam sandarannya lagi. Mereka berdua hanya tenggelam dalam keheningan.

~*~

"Sha! Anjir baru pertama kali gua ngeple segininya." Nada nyerecos di telfon.

"Kenapa lu?" Asha langsung excited karena baru pertama kali dia mendengar suara Nada sebahagia ini.

"Vero mainin lagu buat gua terus dia......" Nada diam sengaja membuat temannya itu penasaran.

"Ngapain???" Tanya Asha.

"Cium pipi gue.... Oke no comment!" Kataku sambil tersenyum.

"O em ge!! Na!! Cie!! Ata aja panteran cuma nyanyiin gua. Tp aih! Kan gak boleh." Kata Asha sambil ngakak.

"Hm--.".

"Gak nyangka lo udah bisa lupain dia ya, Na! Congrats mwahhh. Btw lo bener udah lupa kan?" Nada terdiam tanpa kata.

"Ehm.....gaktau.....gue pendem? Hm gaktau lah. Gue sayang Vero, Sha. Tp gue bingung."

"Plis lo bisa. gua yakin." Asha menyemangati Nada.

"Ya gue confused" Nada dengan lagak sok bule nya.

"Gaya lo" Asha ngakak.

"Gah gak bener ngomong sama lo. Udh yak bye! Assalamualaikum" kata Nada mengakhiri percakapan.

"Hah uptoyou. Walaikumsalam."

Sampai semuanya benar2 berhenti. "Gue gak yakin bisa."

~*~

Radian lewat diantara kerumunan penjualan tiket konser . Sampai tiba-tiba menabrak seseorang, "Eh Ver, nonton juga lo? Salah ye kita baru beli onthespot." Kata Radian.

"Yea salah banget kita. Bareng lah kalo kayak gini sama siapa lo?" Kata Vero.

"Cuma sama Aji doang sih.”

"Yaudah gabung aja lah"

"Okelah sip"

Tidak lama kemudian ponsel Vero bergetar. "Halo Na. Ya? Kenapa?" Terdengar percakapan antara Vero dan Nada pastinya. "Kamu dimana? Rumah kan? Yaudah aku kesana. jangan kemana-mana sampe aku sampe disana." kata Vero buru2 dan segera mematikan hpnya. "Yan, gua gak jadi nonton. Sori ya semua." Kata Vero.

"Lah knp? Cewek lo? Manja banget si Nada." Kata Radian seenaknya.

"Diem lo." Segera Vero meninju dada Radian. "Sorry pelajaran sama orang yang ngomong sembarangan." kata Vero sambil lari melewati antrean. Wajah Radian dilumuti dengan mimik kesal.

Sesampainya di rumah Nada. Vero langsung mendatangi kamarnya. "Na, ke dokter
sekarang ya. Aku anter." Seraya Vero mau menggendong Nada.

"Gak usah Ro. Aku pusing doang. Aku kesepian. Maaf ya kamu jadi ngebatalin nonton band itu." Kata Nada memandang Vero.

"Gpp. Udah pernah nonton. Lebih penting kamu kok." Vero terpaksa sedikit berbohong tentang dia pernah menontonnya. Vero duduk diatas tempat tidur Nada sambil menggengam tangannya. "Kamu tidur aja aku tunggu kamu sampe tidur." Kata Vero. Nada cuma mengangguk pelan. Lalu mulai menutupkan matanya dan berlalu tidur. Vero mengecup keningnya.

Terlihat lemari kecil disebelah tempat tidur Nada terbuka. Vero penasaran dan membukanya. Dilihatnya album foto tergeletak didalam. Sambil mengecek lagi apakah Nada sudah benar2 tidur ia mengambil album foto itu. Dibukanya perlahan2. Halaman pertama berisikan tulisan tangan Nada yang sangat rapih.

'For you.'

Dibukanya lembar kedua, Foto sesosok cowok yang tadi baru saja dia tinju. Radian.
Lembar demi lembar dibukanya. Foto-foto itu tertata rapih dengan note kecil disampingnya. Tiba dihalaman akhir, gambar pop-up yang benar-benar indah terbuka.

'I love you'

Tidak pernah Nada mengatakan kata itu kepadanya. Setengah terpukul dia menutup lemari kecil itu dan membawa album fotonya.

~*~

"Na, aku mau ngajak kamu nanti hari sabtu ya!" Kata Vero berseru ke arah Nada.

"Kemana?" Nada balas bertanya.

"Ikut ajalah" kata Vero lagi.

Nada berjalan ke arah kantin bersama teman-temannya. Dan bertemu dengan Radian, malah hampir menabraknya. "Hei! Forget it." Kata Nada kencang ke dirinya sendiri. Sampai Radian melihat ke arahnya.

"Kenapa lu, Na?" Farah bertanya. "Gpp! Napa gua? Udah yuk laper" kata Nada. Radian yang dari tadi melihati Nada karena penasaran terhadap sikap Vero terhadapnya 1 minggu yang lalu dan tiba-tiba mengajak Radian bicara sepulang sekolah nanti.

           Pulang sekolah pun tiba. Hari ini Vero beralasan ada rapat osis ke Nada. Dan Nada pun mempercayainya.

"Yan? Lo disitukan?" kata Vero saat memasuki ruangan kelas 9b. Radian hanya melihat ke arah Vero yang sedang menarik kursi dan mengabaikannya lagi. "Nih gue mau kasih ini ke lu.”

"Ha? Apaan nih? Lo homo? Ngapain ngasih album foto ada tanda love nya ke gua?" Kata Radian membalik-balikan album itu.

"Liat belakangnya siapa yang bikin." Kata Vero. Radian segera membalikannya.

~Ariyana Nada P~

Nama itu tertulis dengan jelas. "Buka Yan. Lo perlu tau." Vero bicara sekali lagi dan menopangkan mukanya di telapak tangannya. Radian terdiam saat membuka lembaran pertama, masih sama seperti waktu Vero membukanya, For You.

Saat membalikkan ke lembar lain dia melihat foto dirinya yang mungkin diambil Nada dari facebook ataupun potret yang tidak disadari diambil secara diam2. Hingga halaman terakhir tulisan yang dibuat pop-up muncul, I love you.

"Wah gak mungkin nih Ver. Dia kan pacar lo" kata Radian setengah tak percaya.

"Bisa aja. Dia mendem dari kelas 6, Yan! Lo aja gak nyadar." Vero bicara.

"Ha?" Radian masih bingung sama apa yang dihadapkannya.

"Gue minta lo hari sabtu ke bukit di daerah GreenCove. Gue udah siapin plis lo lakuin ini." Dengan paksaan.

"Apa hak lu maksa gua? Gua punya cewek, Sila. Gimana kalo dia Tau? Sori Ver buat yang ini gua gak bisa" kata Radian sambil menyambar tasnya. Dan mulai melangkah untuk keluar.

"NADA SAKIT! LO NGERTI GAK? CUMA LO YANG BISA GUA GAK. SILA JUGA HARUSNYA NGERTI MANA YANG TERBAIK BUAT SAHABATNYA. SA-HA-BAT YANG TEGA-TEGANYA KHIANATIN TEMEN SENDIRI!" Vero naik darah dan membuat kaki Radian berhenti berjalan.

"Sakit apa sih? Penting? KENAPA GUA?? Dia punya lo." Kata Radian lagi yang sebenarnya sudah tak bisa berkata-kata. "LO MAU TAU? KANKER OTAK DAN HIDUPNYA GAK AKAN LAMA LAGI." Kata Vero benar-benar stress. Radian terdiam sangat lama sampai akhirnya, "Sorry Ver gua tetep gak bisa.".

~*~

Jadi kan Ro malem ini? Dimana sih? Aku penasaran.

SMS dari Nada sampai di hp Vero.

Jadi kok. Kamu tunggu aja aku jemput nanti. Yang cantik ya :p

Hahahah. Oke Ro! See u :*

See you :)

Vero tampak pucat pasi tak tau harus apa. Dia sudah memikirkan malam ini begitu matang. Sampai akhirnya Vero mengirimkan pesan lagi untuk Radian.

Yan, plis banget. Terakhir.

Sambil menunggu jawaban dia memutar hp nya.

Oke lah Ro. Tp gua gak bisa lama2.

Makasih banget gan! I love youuuu so much :*

Najis homo banget lu

~*~

Sementara di rumah Nada.

Nada sibuk memilih baju untuk malam ini. Akhirnya dia memilih dress warna peach casual selutut yang membuat kakinya terlihat lebih jenjang dengan cardiganputihnya dan memakai sneakers nike putih bercampur biru. Pukul 6 Nada sudah siap dengan semuanya. Ia menerima pesan singkat dari Vero.

Udah siap? Aku jemput sekarang bisa?

Dengan cepat Nada membalasnya,

Udahhhhhh! Bolehboleh ;)

Nada sudah tidak sabar. Sekarang dia duduk di teras rumah. Sampai Mobil Yaris Silver berhenti di depan rumahnya. Vero keluar memakai kemeja dan jeans serta sneakers juga. Nada berjalan ke arah Vero dan membuka pintu pagarnya.

"Cantik.....banget. Coba...." Dandan buat aku, terus Vero dalam hati.

"Coba apa? Haha makasih yaAllah." senyum Nada mengembang.

"Lupain. Are you ready?" Tanya Vero.

"Yes I am!" Kata Nada mantap sambil melingkarkan tangannya dilengan Vero.

Sampai di tempat yang dituju, Nada terkejut melihat semuanya. Indah. Batu besar yang biasanya dilihat biasa saja dihiasi dengan beberapa pernak-pernik. "Kamu yang rencanain--?" kata Nada.

"Iya. Sini yuk.” Vero duduk bersandar di batu besar itu diikuti oleh Nada.

"Makasih." Nada berbisik ditelinga Vero.

"Ya-- demi kamu...." Kata Vero menatap matanya. Saat wajah mereka semakin dekat Vero langsung meraih wajah Nada dan hanya mengecup keningnya lama. "Kamu boleh tidur di bahu aku sekarang." Kata Vero.

"Ro--? I love you." Kata Nada bersungguh-sungguh. Vero menoleh kaget karena baru pertama kali Nada mengatakan itu.

Vero berkata, "Selalu aku akan bales, I love you too.”.

Hatinya tiba-tiba tidak yakin apakah dia benar-benar akan menemukan mereka berdua. Tetapi tekadnya tetap bulat, dia harus. Saat melihat ke wajah Nada, dia sudah tertidur di bahunya. "Na, Sleep well. Jangan marah ke aku. Aku cuma mau kamu lega." Kata Vero sambil hati2 berdiri.

Vero berjalan ke arah laki-laki yang sedang duduk di atas motor hitam yang parkir di sebelah mobilnya."Sekarang, Yan. Dia lagi tidur. Jaga dia buat kali ini aja. Seengganya bikin dia lega." Kata Vero. Sekarang Radian sudah bangkit dan berjalan ke arah balik batu besar itu.

Dilihatnya seorang perempuan tidur menyender di batu itu, cantik. Pertama kali ia melihat Nada seperti ini, tidur tenang. Radian duduk di sebelah Nada dan membiarkan kepala cewek itu menyender di bahunya. Bau parfum yang menyengat ke hidung Radian membuatnya semakin tegang.

Tiba-tiba Nada bergerak, "Ro?" Nada mencoba meraih tangan Vero. Namun yang ia dapat tangan seseorang yang agak asing.

"Bukan Vero." Suara berat itu terngiang di kepalanya. "Yan? Kenapa lo disini? Vero mana?" Kata Nada langsung menjauh. "Ini" kata Radian sambil memberikan album foto yang dikira selama ini masih tersimpan di laci lemarinya. "Dari ma--na?" Tanya Nada gugup. "Vero." kata Radian.

"Dia? Kapan? ah apaansih.” Nada merengut kesal karena ulah Vero. Nada berusaha menjelaskan, “Yan--serius. Menurut gue itu dulu. I try to forget you. Walaupun..." Gak bisa . Radian memeluk cewek yang daritadi bicara tidak ada jedanya. Darah yang mengalir ditubuh Nada terasa berhenti. Baru kali ini impiannya selama beberapa tahun terakhir tercapai.

Radian yang ingin meleburkan ketegangan ini melepaskan pelukannya dan mulai mengatakan sesuatu ditelinga Nada, "Gpp. Thanks?"
"Hm?" Nada speechless.
"Buat 2 tahun. Maaf gua gak liat lo selama ini. Jujur gua seneng, makasih ya. Sebenernya dulu gue sempet ngelirik lo tapi....dipikir-pikir lo terlalu baik, cantik, dan perfect. Jadi ya gue coba buat gak ngelirik lo lagi.” Kata Radian.
"Ya...sama2. Sorry ya. Vero bother you. Dan....maaf ya jangan gak enak sama gue selama lo jadian sama Sila. Terusin hubungan kalian. Perlahan2 gue lupa kok sama lo lagian kita gak pernah deket." Nada mencoba berani menatap Radian. "Vero udah ada buat gue. Gue lebih sayang ke dia. Dia rela buat gue seseneng apapun. Kalopun gue sering ngerasa....cuma lo yang bisa." Tiba2 terdengar Nada mengatakan sesuatu. Radian melihat orang di depan nya itu mulai pucat. "But however....I still love you." Nada mengatakan itu pelan. Radian terhanyut dalam perasaan sementara yang tiba-tiba datang. "Bye. Salam gue buat Vero blg ke dia ada di laci yang sama." Lalu Nada tersenyum. Beberapa saat kemudian Nada sudah menutup mata nya dan terkulai di pangkuan Radian.
~*~
Tepat 1 tahun Nada meninggalkan dunia ini. Vero sedang duduk di dalam kamar Nada memandang ke arah luar jendela tempat kesukaan Nada saat ia ingin memandang langit.
"Na, cepet ya gak kerasa. Seenggaknya kamu lega. Kamu udah seneng kan diatas?" Vero masih memandang ke atas. "Bytheway, I still love you. Gimana sama kamu?" Tanya Vero ke foto seorang perempuan sedang merangkul dirinya yang telah dibingkai dan dipajang oleh Nada diatas laci itu.
Penasaran ia teringat akan perkataan Radian saat dirumah sakit setelah mencobamenyelamatkan Nada. 'Salam gue buat Vero blg ke dia ada di laci yang sama.' Vero berjalan ke arah laci kecil di sebelah tempat tidur Nada dulu. Ia menarik laci paling bawah itu.
Didalamnya terdapat album foto. Hampir mirip dengan yang di punya oleh Radian. Halaman pertama masih sama dengan album foto yang dulu sempat ia lihat,
For You <3
Namun bedanya disertai tanda love. Dilihat halaman berikutnya foto dia sedang memainkan gitar. Halaman selanjutnya fotonya bersama Nada. Ah gue kangen lo Nada,bisik Vero dalam hati. Lembar demi lembar terbuka, halaman terakhir berbeda dengan Radian yang ada pop-up nya namun yang ada sebuah catatan kecil tertulis disitu. Saat membacanya. Vero menangis diatas tempat tidur Nada.
~*~
Dear, Vero.
Vero, makasih ya. Kamu udah bikin aku lupa sama dia. You-know-who lah. Ro......jangan kira aku masih sayang dia. Now....."I LOVE YOU". Suatu hari kita bakal ketemu. Tapi sekarang aku harus pergi. Kalau kamu kangen liatin tuh langit. Aku selalu ada di hati kamu setiap kamu kangen sama aku. Dadah Vero! Mwah :*

Ps: jangan terpaku sama aku terus ya! *pede mode:on* kamu ganteng baik cool cari sana yang baik buat kamu. Tapi inget aku! Gak mau tau.

No comments :

Post a Comment

looking for something?

Loading...