Amiguito(Sahabat Kecil)

Disaat cinta pada akhirnya berlabuh di satu titik.
~

“Ada apaan sih?” penasaran melihat ke kerumunan orang-orang yang heboh disebelah rumahku.

Ku dekati mereka dengan langkah cepat. Disampingku teman dari SD yang sejak tadi mengikuti ku. Namanya Rasky, dia idola satu sekolah karna dia ganteng. Sedangkan aku dari Taman Kanak-kanak adalah orang yang sangat tidak diakui oleh teman-teman disekolahku. Tapi karna Rasky aku dianggap. Banyak anak-anak perempuan yang mendekatiku untuk bisa dekat dengan Rasky walaupun mereka tak pernah memberi tau ku tapi tetap saja sebagai seorang perempuan juga aku merasakannya. Aku bertubuh besar tapi dilain hal aku sangat menguasai dalam hal pelajaran, kecuali olah raga tentunya. Tetapi sekarang aku mulai menyukainya berkat Rasky. Dan aku dalam proses diet dan tubuh ku sedikit demi sedikit mulai mengecil. Walaupun masih sedikit.

Saat itu aku berjalan semakin cepat agar bisa mendekati kerumunan itu. Sesampainya disana, ternyata ada anak yang tertabrak oleh motor. Dan aku tau dia siapa, Faya. Anak kelas sebelah yang katanya sangat mengidolakan Rasky tapi tidak pernah menunjukan rasa suka itu. Tiba-tiba, “Eh kok itu gak ditolong sih.” Rasky panik sendiri. “Tolong dia lah cepet, Ky.” Sesaat Rasky sudah menghampiri dia dan menggendongnya masuk ke rumah ku.

Rumah itu terbuka saat aku mengetoknya lalu Bibi Iyah keluar. “Sini taro disofa sini aja.” kataku. Bi Iyah membawakan kotak P3K dan dengan cepat mengobati luka Faya. “Dia…Faya nggak apa-apa kan?” Tanyaku panik. “Nggak apa-apa kok, Gi. Cuma luka dikit di lututnya. Tapi kenapa dia bisa pingsan ya.” Tampak kebingungan diwajah dan suara Rasky. “Hmm nggak tau deh. EH dia bangun!” kata ku cepat bergegas membantu Faya bangun. “Ini dimana ya?” kata Faya kebingungan.
Ketika dia sadar sepenuhnya, Faya kaget dengan adanya Rasky disebelahnya dan sebelah kanannya aku. “Rasky? Hm ini siapa….ohya Gia!” seperti biasa pasti Rasky dulu yang diingat semua orang. “Oh hei. Ini dirumah gue. Tadi lo jatoh didepan terus pingsan katanya pas lagi jalan keserempet sama motor. Makanya nggak sengaja kita liat lo, akhirnya kita tolongin deh.” Aku nyerocos panjang lebar dan nggak menyadari suara ku yang terlihat seperti orang jelous saat menyadari Rasky nggak berhenti memandangi Faya seperti itu.

Saat Rasky sadar kalau dari tadi Gia memandangi nya, dia pun segera melanjutkan pembicaraan. “Lo anak 95 kan? Hehe kenalin gua Rasky.” Reflek aku melotot melihat tingkah Rasky yang salah tingkah saat bicara dengan Faya. “Dan lo udah tau gue siapa kan?” senyum sinis terpancar diwajahku. Aku tau Faya nggak salah apa-apa, tapi tidak tau kenapa rasanya aku semakin cemburu melihat kejadian ini dan mendengar Rasky menawarkan Faya untuk diantar pulang. Awalnya Faya menolak tapi karna Rasky memaksa akhirnya diapun menerima tawaran itu.

“Gia! Pulang dulu ya.” Dengan nyengir seakan-akan dia baru saja dapat doorprize tiket nonton Harry Potter and The Deathly Hallows. Aku sih yang pingin nonton. “Aku juga ya, Gi. Makasih udah tolong aku.” Senyum manis dari Faya dan melambaikan tangan kearahku. Saat itu aku tau pasti Rasky sebentar lagi akan melupakanku dan mendapatkan pacar. “Apaan sih nih, Gi! Udah jangan dipikirin. Lo sahabat Rasky bukan siapa-siapa!” tegas suaraku. Sambil melihat mereka berlalu. Dan Rasky membantu Faya berjalan. Sungguh pemandangan yang sangat memilukan.

~

Sudah sebulan kejadian itu berlalu. Dan benar saja Rasky dan Faya tepat hari ini jadian dan Rasky memintaku untuk menemaninya saat dia menembak Faya. Dan aku tau pasti Faya sangat senang sekali karna dia kan suka berat sama Rasky.

Aku pamit pulang duluan kepada Rasky. Ya, akhir-akhir ini sih emang Rasky udah jarang banget pulang bareng. Alasannya dia harus latihan basket untuk turnamen 2 minggu lagi. Tapi nggak sengaja waktu itu aku makan di warung bakso kesukaanku, aku melihat Rasky jalan berdua dengan Faya. Mulai saat itupun aku jadi malas bersama Rasky. Aku tau aku mulai benar-benar cemburu melihat mereka dan aku tidak mau sampai Rasky tau tentang perasaanku ini.

Saat sampai dirumah aku membenamkan wajahku kebantal dan menangis sampai saat aku melihat ke kaca aku merasakan kulitku yang putih tampak memerah. “Ah! Gue harus buktikan ke Rasky kalo gue juga bisa dapet cowok lagian gue sekarang udah nggak gendut kan? Minggu depan kan libur anak-anak kelas 12 mau UN, hm kesempatan nih. Gue harus!” tekadku walaupun aku tau ini bukan salah satu jalan untuk melupakan rasa cemburuku.

~

Seminggu kemudian Gia masuk dengan tampilan yang sangat berbeda. Dan benar saja saat dia jalan di Koridor Sekolah 28 Jakarta. Semua mata menuju kepadanya. Tampang bule yang dari dulu diwajahnya kini makin jelas terpancar.

Seseorang berlari-lari kecil kearahnya, “Wesss Gi, cantik amat lo. Udah berhasil banget dietnya, gara-gara gue nih.” kata Rasky senyum lebar kearahku. “Masa sih? Makasih ya. Gue masuk duluan ya kekelas.” Kataku tersenyum. Aku berjalan dengan diiringi kebingungan dari Rasky dan tatapan seisi sekolah.

Aku sampai dikelas dan menaruh tas diatas meja. Ketika aku sadar ada sebungkus coklat dengan pita, “Ha? Punya siapa nih? WOI ada yang ngerasa punya ini gak?” teriakku kepada seisi kelas. Lalu Alya teman sekelasku berkata, “Itu dari si Rasky, Gi!” aku terdiam. Dan saat melihat keluar jendela Rasky tampak tersenyum kepadaku. “Apaan nih maksudnya?” sambil Aku berjalan keluar menuju Rasky. Rasky dengan santai berbicara, “Nanti lo juga tau apa maksudnya.” sambil berlalu pergi masuk kedalam kelas.

Aku bingung sendiri dengan tingkah Rasky sampai pulang sekolah. Dia tidak berbicara padaku. Tapi dia selalu melontarkan senyuman hangat yang aku tidak tau apa maksudnya, yang jelas aku mati dalam penasaran sampai pulang dari sekolah.

~

Hari ini turnamen basket antar sekolah berlangsung. Dan tentu saja Rasky bermain. Aku diminta untuk menontonnya dan diminta juga untuk menemani Faya. Aku ingin menolak tapi untuk alasan apa aku menolak. Akhirnya dengan rasa sedikit terpaksa aku mengiyakan permintaan Rasky.

Esoknya di hall tempat Rasky akan bermain. Aku duduk di bangku paling depan bersama Faya dan teman-temannya. Aku juga mengajak Alya, Risa, dan Arsya untuk menemaniku. Walaupun aku tidak dekat kepada mereka namun aku tau mereka menganggap aku sebagai teman mereka juga.

Suara komentator sudah terdengar dari setiap sudut. Mengenalkan siapa saja yang akan bermain hari ini. Dan dilihat dari ujung lapangan aku melihat Rasky dan anak basket lainnya. Bersamaan dengan itu anak-anak dari sekolahku berteriak yel-yel untuk menyemangati teman-teman yang akan bertanding. Aku melihat Rasky melambaikan tangan kearahku. Saat aku ingin membalas lambaiannya, aku melihat disebelahku Faya sedang melambaikan tangan kearah cowok itu. Aku mengurungkan niatku untuk meneriakkan nama Rasky nanti. Aku hanya tersenyum seadanya kepada Rasky dari bangku. Aku tak melihat lagi apakah Rasky membalasnya atau tidak.

Aku yang mulai bosan karena tidak bisa berbuat apa-apa disitu mulai mengeluarkan hp dan bermain twitter sampai suara peluit dari wasit terdengar. Pertandingan itu berlangsung kira-kira 1 jam. Dan sekolahku dinyatakan menang dengan skor 25 – 14. Aku langsung berdiri dan bertepuk tangan untuk kemenangan kita.

Tadinya aku mau berlari menghampiri Rasky dan mengucapkan selamat. Tetapi aku tersadar saat melihat cewek yang sedang merangkulnya, Faya lagi. Saat aku melihat kesebelahku ternyata bangku itu memang telah kosong.

Aku berjalan biasa menghampiri dia. Dan dari jauh terdengar, “GIA!!”. Aku kaget saat Rasky meneriakan namaku dan berlari memeluk diriku. Aku terbenam ditubuh Rasky yang tegap dan tinggi itu. Aku hanya bisa bergumam mengucapkan selamat kepadanya. Tiba-tiba aku tersadar dan segera mendorongnya melepaskan tubuhku. Takut kalau Faya melihatnya dan cemburu. Rasky tetap tersenyum dan tidak menengok kearah Faya sama sekali. Malah ditatapnya lekat-lekat kedua mata kecilku. Aku salah tingkah. “Sekali lagi selamat ya! Gue pulang duluan, Byee.” kataku terburu-buru, karena salah tingkah.

Aku mencoba berbalik dan segera melangkah pergi. Belum ada lima langkah tiba-tiba sebuah tangan menangkap pergelangan tanganku dan langsung menarikku kedalam pelukannya lagi. “Jangan kemana-mana ya. Disini aja?” pinta Rasky. “Kenapa? Kamu udah ada Faya.” aku membekap mulutku saat berkata ‘kamu’. Jarang sekali aku mengatakan itu kepada Rasky. “Faya bukan siapa-siapaku. Aku sayang sama kamu, Gi.” reflek aku melepaskan pelukan itu lagi dan menatap kaget kepada Rasky. Mereka juga tidak menyadari bahwa dari tadi berpuluh-puluh pasang mata menatap dan bersorak kearah mereka. “Terus? Lo kan nembak Faya? Kenapa sekarang bilangnya bukan pacar lo? Maksudnya apasih nggak ngerti.” kataku sambil menatap langsung kearah mata Rasky. “Gue cuma mau liat lo cemburu atau nggak sih. Lo ngerasain hal yang sama ke gue gak sih. Itu aja kok. Maaf ya?” kata Rasky lembut kearah ku. Aku memukul dada Rasky dan menangis, Rasky malah balik memeluknya lagi tapi lebih dengan perasaan. “Maaf ya?” ucap Rasky lagi. Aku tidak bisa marah kepada Rasky aku malah tersenyum dan menatapnya.

“Aku sayang kamu, Ky”

Comments

Popular posts from this blog

2