Adhyra Ramadiani
1996, February
xoxo

12/17/10

16

Saat itu aku sedang rusuh sendiri mengikat rambut dan memakai sabuk karena bel baru saja berbunyi. "Kebiasaan lo ya, Dhyr." Firdha bicara. "Hehehehe" tawaku yang dibuat-buat karena panik.




Entah mengapa semuanya tampak berbeda dan aku tak tau apa itu. aku mencoba untuk mengingat namun tak ada pengaruhnya. "Ayo anak-anak cepaaat. Udah kelas 9 kok kayak gini." kata pak Mukrim berteriak.

Beberapa menit kemudian semua murid diam dan mengikuti ikrar dengan tertib. Semua berbeda, sangat berbeda. Tapi aku masih tak tau kenapa dan apa yang berubah.

Kulihat ke sekeliling koridor sekolah. Hari ini dia gak masuk, kataku dalam hati saat melihat ke barisan 9b. Aku tertunduk. "Dhyr, napa lo bengong?" Rara menyikutku. "Ha? Engga...gak apa-apa." kataku gelagapan.

Tiba-tiba aku tersadar. Di depanku sosok tinggi yang aku cari-cari ternyata disitu. Aku coba atur nafasku dan ku nikmati moment itu. Tapi aku terdiam sejenak. Aku bingung. Mengapa dia dan beberapa anak cowok ada di barisan ini. Semuanya benar-benar berbeda.

"Kok mereka disini?" aku bertanya kepada Radin. "Emang kayak gini kok, Dhyr. Dari dulu malah." jawabnya. "Ah? Masa sih?" aku bingung sendiri. "Iyalah. Kenapa sih lo, Dhyr?" tanya Radin. "Ah aneh."

~*~

Hari ini baris-berbaris terasa lama. Sudah hampir 30 menit aku berdiri disini. Di belakang nya. Sambil mendengarkan guru yang berbicara. Aku tak tau siapa yang berbicara. Tidak lama kemudian ada seseorang dibelakangku menarik perhatian. Reflek orang-orang di depanku menoleh kebelakang. Termasuk dia.

Saat itu tiba-tiba nafasku terhenti. Jantungku berdegup kencang dan tak dapat di sembunyikan. Rasanya aku ingin memberontak tapi aku tak bisa aku berada dekat sekali dengannya. Aku terbenam di dadanya. Wake up, aku mendengar suara bisikan entah dari mana. Aku coba atur nafasku yang lama kelamaan tidak terkendali. Aku tidak mendengar apa-apa. Aku merasakan waktu berhenti tidak ada yang menyadari semua ini. "Let me give you a hug." dia membisikan suara itu ditelingaku. Aku hanya terdiam dan benar-benar tidak bisa berbuat apapun dengan keadaan seperti ini. Ia membisikan sekali lagi, "I Love You.".

~*~

Sesaat kemudian semuanya kembali seperti normal. Dia sudah melepaskan pelukan yang posesif itu dan berjalan ke arah 9b. Aku hanya terpaku dan terdiam melihat dia pergi begitu saja. "Cieeee Dhyraaaa, dia suka tuh sama lo." Asri berbicara. "Gak gitu, Sriii. Gue gak sengaja bukan gue yang mau tapi dia yang......" kalimatku terhenti. "Sengaja apaan? Ngomong apasih lu. Gue cuman mau bilang kalau dia suka sama lo."

Dengan hati dan wajah yang bingung aku berjalan ke dalam kelas. Ketika disadari aku bukan masuk kedalam 9c, aku malah masuk kedalam kelas 9d. "Ciee Dhyraaaaaaaaaaaaa!! Aaa." Rara menghampiriku dengan heboh. "Apaan sih?" kataku tambah bingung. "Udahlah Dhyr benrar lagi ini mah.". Aku yang tidak ingin mendengarkan apapun lagi berjalan cepat ke lantai bawah dan masuk ke 9c. Semua anak-anak diam dan tak ada yang cengcengin di kelas itu. Aku hanya duduk dan menatap keluar jendela dengan perasaan galau.

Tiba-tiba kerusuhan terjadi diluar kelas. Tidak tau apa yang membuat kaki ku tergerak. Aku berlari mengikuti mereka. Dan saat aku berdiri di depan ruang TU semuanya lenyap begitu saja. Akupun masuk kedalam situ untuk mencari tau ternyata yang ada hanyalah guru yang sedang duduk di sofa. Aku melihat selembaran kertas dan tumpukan CD. Aku rebut itu dan segera berlari keluar. Aku tidak tau apa yang aku lakukan.

"Dhyr, maaf ya." suara berat itu menghantui pikiranku. Tiba-tiba semua gelap. Hilang. Dunia nyata harus tetap berjalan.

~*~

note: ini mimpi gue. mohon dimaklumi jika agak freak. gue jg bingung -_-

No comments :

Post a Comment